Selamat datang di zona Atmadilaga

Mari berbagi informasi, pengalaman, dan wawasan, .
setetes tinta melahirkan jutaan inspirasi
Showing posts with label Pemetaan. Show all posts
Showing posts with label Pemetaan. Show all posts

24 February 2012

peta tematik

https://atmadilaga27.blogspot.com
Peta tematik (juga disebut sebagai peta statistik atau peta tujuan khusus) menyajikan patron penggunaan ruangan pada tempat tertentu sesuai dengan tema tertentu. Berbeda dengan peta rujukan yang memperlihatkan pengkhususan geografi (hutan, jalan, perbatasan administratif), peta-peta tematik lebih menekankan variasi penggunaan ruangan daripada sebuah jumlah atau lebih dari distribusi geografis. Distribusi ini bisa saja merupakan fenomena fisikal seperti iklim atau ciri-ciri khas manusia seperti kepadatan penduduk atau permasalahan kesehatan.

Peta tematik adalah peta yang memiliki tema tertentu, dilakukan dengan dengan memberi shading (pola tampilan) menurut tema yang diinginkan. Shading dapat berupa perubahan warna, pola, simbol atau keterangan berupa grafik statistik.

Pembuatan peta tematik merupakan salah satu cara yang ampuh untuk melakukan visualisasi dan analisis data. Terdapat beberapa metode pemetaan tematik yaitu:
  • · ranges of values 
  • · graduated symbols 
  • · dot density 
  • · individual values 
  • · bar and pie charts 
Adapun variasi dan pilihan dalam metode tersebut l:

· thematic mapping
· inflection point

PERENCANAAN PETA TEMATIK

Sebelum membuat peta tematik seharusnya diketahui elem-elemen yang membentuk peta tematik tersebut dan bagaimana menggabungkannya.

Variabel Tematik

Data yang ditampilkan pada peta tematik disebut variabel tematik dan dapat ditampilkan satu atau lebih variabel tematik. Metode ranges of valuse, graduated symbol , dot density dan individual values memanfaatkan satu variabel sedangkan dengan grafik batang atau lingkaran dapat memanfaatkan lebih dari satu varibael dalam waktu yang bersamaan. Variabel tematik dapat pula dalam bentuk ekperesi yang diturunkan dari data dalam table. Peta tematik dua variabel sebenarnya dapat diusahakan menggunakan simbol, misalnya warna untuk satu variabel dan ukuran untuk variabel yang lain.

Perolehan data

Data yang digunakan untuk membuat peta tematik dapat berasal dari table yang dijadikan peta dasar yang digunakan atau berasal dari table yang lain. Data yang verasal dari table yang lain dibawa ke dalam data di peta dasar dengan cara menghasilkan field temporer.


PETA INDIVIDUAL VALUE

Peta tematik dengan cara ini akan menampilkan point, line, boundary yang ditentukan berdasarkan nilai-nilai setiap rekord sevara individual. Jadi setiap nilai memiliki sendiri jenis warna maupun simbol.


Share:

27 November 2011

Tutorial LDD (Menggabung dengan Civil 3D dan Microsoft Project)


lagi nih...Bagi yang ingin mempelajari Land desktop yang nantinya akan digabungkan dengan civil 3D, dan Microsoft Project yang natinya selalu dibutuhkan...


Sebelumnya akan saya jelaskan bagi yang belum tahu tentang program ini,

Microsoft Project merupakan program pengolah lembar kerja untuk manajemen proyek dan pengolahan data guna pembuatan grafik. Ms Project membuat schedule pengerjaan proyek berdasar data dari RAB dan gambar kerja. Dengan pengaturan hari kerja, jam kerja, jumlah pekerja, pembatasan pekerjaan, pembagian tugas, Grafik dan pembuatan laporan, maka pekerjaan suatu proyek akan berlangsung dengan efisien. Penggunaan SDM, waktu dan penugasan sesuai dengan pekerjaan dan penjadwalan.


Software yang mudah digunain dan cukup familiar untuk pekerjaan surveying saat ini adalah Autodesk Land Desktop. Konon hingga sekarang, versi terakhir yang sudah dirilis adalah Land Desktop 2011. Tapi jika dirasa terlalu berat karena kapasitas HD udah mepet, versi 2007, 2005 dan 2004 nya LD masih cukup mumpuni untuk membantu pekerjaan kita.

Software AutoCAD® Civil 3D® adalah Building Information Modeling (BIM) solusi untuk desain dan dokumentasi teknik sipil. CIVIL 3D dirancang untuk insinyur sipil, drafters, desainer-desainer, dan juruteknik yang mengerjakan desain transportasi, pengembangan lahan, dan proyek air. Tetap terkoordinasi dan mengeksplorasi opsi-opsi desain, menganalisa kinerja proyek, dan memberikan konsisten, dokumentasi kualitas lebih baik—semua dalam lingkungan perangkat lunak AutoCAD®.

Perangkat lunak AutoCAD® Civil 3D® untuk desain teknik sipil, analisis, dan simulasi:
  • 3D model-based design
  • Design tools
  • Geospatial functionality
  • Hydrology and hydraulics
  • Optimize material usage
  • Visualization
Fitur-Fitur
Fitur-fitur baru dan meningkatkan software teknik sipil AutoCAD® Civil 3D® memungkinkan insinyur sipil, drafters, desainer-desainer, dan juruteknik mengerjakan transportasi, pengembangan lahan, dan proyek teknik sumber daya air untuk bekerja secara lebih efisien. AutoCAD Civil 3D 2012 termasuk tata letak deretan meningkatkan dan alat-alat yang memungkinkan lebih mudah berbagi penggambaran dan standar desain seberang organisasi-organisasi. Peningkatan-peningkatan koridor mempersingkat penelitian koridor, dan perbaikan-perbaikan impor data membantu ke arah menyederhanaan kreasi tersebut benda-benda cerdas.

Nah kalau anda tertarik untuk mempelajarinya silahkan download gratis tutorialnya di sini
Share:

23 November 2011

Tahapan Pembuatan Peta Serta Pengolahan data Ukur Tanah

Pengukuran Kerangka Peta

a. Kerangka horisontal

Sesuai dengan keadaan luas daerah yang akan dipetakan, maka kerangka peta yang digunakan dalam praktikum adalah berupa poligon. Poligon dibagi menjadi poligon terbuka dan tertutup. Dalam proses pembuatan kerangka horisontal poligon terbuka/tertutup diikatkan pada titik pasti yang telah diketahui koordinatnya.

Pengukuran Kerangka Horizontal
 
Keterangan :
1,2,3,…                       : nomor titik
b1,b2,b3,…                : sudut dalam poligon
a1, a2, a3,…              : sudut luar poligon
a12,a23,a34,…          : azimuth
Rumus-rumus yang harus dipenuhi:
1.      Syarat sudut
Jumlah sudut dalam poligon        : Sbd    = (n – 2) x 180o
Jumlah sudut luar poligon            : Sb      = (n + 2) x 180o
Dengan                                         : n         = jumlah titik poligon
                                                 Sb      = jumlah sudut poligon

2.      Syarat sisi
Jumlah proyeksi pada sumbu y                          = S(d sin a)        = 0
Jumlah proyeksi pada sumbu  x                         = S(d cos a)       = 0

3.      Azimuth awal
Pengukuran azimuth didasarkan pada arah utara magnet bumi atau azimuth kompas.

4.      Menghitung azimuth masing-masing titik
Untuk poligon sudut dalam   a(n,n+1) = a(n – 1, n) + 180o - bd
Untuk poligon sudut luar       a(n,n+1) = a(n – 1, n) - 180o + b
Dengan:               n    = nomor titik
                a    = azimuth
b        = sudut luar/dalam poligon

Cara perhitungan poligon dilakukan menurut tetapan:
1.      Menjumlahkan sudut dari sudut dalam atau luar yang diukur.
2.      Menentukan besar penyimpangan (b) kemudian memberikan koreksi pada tiap titik.
3.      Menghitung sudut jurusan didasarkan pada sudut poligon yang telah terkoreksi.
4.      Menghitung proyeksi titik ke sumbu x dan y, yaitu d sin a dan d cos a.
5.      Menentukan penyimpangan jumlah jarak proyeksi dan memberikan koreksi pada tiap-tiap jarak tertentu

b. Kerangka vertikal

Kerangka vertikal diukur dengan menggunakan alat waterpass. Pekerjaan waterpassing atau pengukuran beda tinggi, yaitu:
1. Pengukuran beda tinggi di suatu tempat.
2. Pengukuran profil/penampang tanah pada arah melintang.

Beda tinggi antara dua titik adalah selisih tinggi dalam vertikal atau jarak terpendek antara dua nivo yang melalui titik tersebut. Penampang adalah tampang yang arahnya melintang. Pengukuran beda tinggi diperlukan untuk menghitung volume galian dan timbunan tanah.
Dalam pembuatan peta topografi digunakan pengukuran memanjang untuk ketinggian titik detail dan dari hasil pengukuran didapat beda tinggi suatu titik ikat (poligon) terhadap titik ikat lainnya. Beda tinggi yang didapat nantinya akan digunakan sebagai data dalam pembuatan dan penggambaran peta topografi.
 
Pengukuran beda tinggi antara dua titik dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:
1. Metode menyipat datar 
Pengukuran Beda Tinggi dengan Metode Menyipat Datar
 
Metode ini menggunakan waterpass sebagai alat ukur.
DHAB          = BTA – BTB
HB              = HA + DHAB

Dengan      :
DHAB          : beda tinggi antara titik A dan titik B
BT              : Bacaan benang tengah
H                : Ketinggian/elevasi
                                              
2. Metode barometris



Pengukuran dengan Metode Barometris

Metode barometris menggunakan barometer sebagai alat ukur. Metode ini memakai prinsip menggunakan tekanan udara pada tempat yang akan dicari ketinggiannya. Untuk mengetahui ketinggian dari muka air laut rata-rata. Setelah ketinggian diketahui maka beda tinggi yang diperoleh kurang akurat, karena tergantung dari suhu, kelembaban udara, dan juga gaya tarik bumi.


Dalam pemilihan titik detail harus disesuaikan dengan kondisi lapangan,, yaitu jangan terlalu jarang maupun terlalu rapat. Jika titik terlalu jarang maka hasil peta situasi tidak akan mencerminkan kondisi yang sebenarnya, namun jika terlalu rapat, kurang efisien. Untuk daerah datar cukup diambil beberapa titik saja tetapi untuk tanah bergelombang diambil titik efektifnya, untuk parit diambil data tentang kedalaman dan lebarnya.

Agar pengambilan titik detail lebih mudah, mengenai sasaran, maka titik tersebut dapat dikelompokan sebagai berikut:
a.       semua jalan (meliputi: jalan raya, jalan kecil, dll)
b.      saluran-saluran air, batas sungai, batas pantai
c.       jembatan, gardu listrik, tugu, monumen, dll
d.      lapangan olahraga, lapangan terbang, persawahan, permukiman
e.       kantor pemerintahan, kantor polisi, bank, pasar, toko, dll
f.       batas-batas propinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan, dll

Pada setiap pengukuran suatu titik detail, perhitungan jarak dan beda tinggi dilakukan dengan cara tachimetri atau disesuaikan dengan alat yang digunakan, berikut Pengukuran Menggunakan Theodolite 
Pengukuran Beda Tinggi dengan Cara Tachimetri
 
Jd (jarak datar)             = Jm cos m
                                      = (BA – BB) x 100 x cos2 m

Beda tinggi = DH         = ½ (BA – BB) x 100 sin 2m + i– BT
Dengan:
i               = tinggi alat
BA          = bacaan benang atas
BB          = bacaan benang bawah
BT           = bacaan benang tengah
m             = sudut miring
z              = sudut zenith = 90o - m
DH          = beda tinggi antara titik A dan B
Jd            = jarak datar
Jm           = jarak miring

3. Metode trigonometri
Pengukuran dengan Menggunakan Cara Trigonometri
Pada metode ini alat yang digunakan adalah theodolit.
Beda tinggi antara A dan B = Jd tan m
Dengan:
Jd = jarak datar
z   = sudut zenith
m  = sudut miring                        

c. Data yang harus diukur

Data yang harus dicari tergantung dengan alat yang digunakan. Data yang perlu diukur dalam kaitannya dengan pengukuran kerangka horisontal dengan menggunakan theodolit adalah benang atas, benang bawah, benang tengah, azimuth, zenith, tinggi alat dan sketsa pengukuran, sedangkan data yang perlu diambil untuk kerangka vertikal adalah data dari penggunaan waterpass, yaitu benang atas, benang bawah, dan benang tengah.

Pengukuran Titik Detail

Titik detail adalah semua penampakan yang ada di muka bumi baik alamiah maupun buatan manusia. Pada pengukuran ini tidak mungkin dilakukan secara lengkap dan terperinci, oleh karena itu harus diambil titik detail seefektif mungkin yang dapat mewakili dalam penggambaran peta situasi nantinya.

a.   Cara-cara pengambilan titik detail

Dalam pengukuran titik detail dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :
1.       Pengukuran Titik Detail dengan Cara Memancar

Cara ini dipakai jika jarak antara titik pasti berdekatan. A dan B adalah titik pasti. Dari gambar di atas pesawat diletakan di titik A lalu diambil a1, a2, a3,…, sedangkan arah sumbu masing-masing menjauhi titik A, begitu juga titik B.
2.   Pengukuran Titik Detail dengan Cara Melompat

Adakalanya kita mengalami kesulitan jika menggunakan metode memancar dalam mengukur titik detail karena titik pasti berjauhan, sehingga diperlukan cara melompat.

3. Pengukuran Titik Detail dengan Cara Grid
Dilakukan dengan membuat grid-grid tiap jarak tertentu.

b. Data yang harus diukur

Data pengukuran titik detail yang diperlukan adalah azimuth, zenith, benang atas, benang bawah, benang tengah, dan tinggi alat serta sketsa pengukuran titik tersebut. Data tersebut digunakan untuk mencari jarak dan beda tinggi antara tempat alat didirikan dengan titik detail yang diukur.

Share:

PETA TOFOGRAFI

Pengertian

Peta adalah bayangan rupa bumi yang digambarkan di bidang datar (bidang gambar) dengan skala tertentu, sedangkan peta topografi adalah peta yang memperlihatkan unsur-unsur asli dan buatan manusia di atas permukaan bumi. Unsur-unsur tersebut dapat dikenal maupun diidentifikasi dan pada umumnya untuk memperlihatkan keadaan yang sesungguhnya.

Pengertian lain mengenai peta topografi ada dua, yaitu:
a.       Peta yang menggambarkan relief permukaan bumi beserta bangunan alami maupun buatan manusia yang ada di atasnya.
b.      Peta yang menggambarkan relief/sifat permukaan bumi yang digambarkan dengan garis kontur.

Garis Kontur
Garis kontur adalah garis pada peta yang menghubungkan titik-titik yang mempunyai ketinggian yang sama terhadap bidang refrensi yang digunakan. Kecuraman dari suatu lereng (stepness) dapat ditentukan dengan adanya interval kontur dan jarak antara dua kontur, sedangkan jarak horizontal antara dua garis kontur dapat ditentukan dengan cara interpolasi. Garis kontur tidak boleh saling berpotongan satu sama lain. Selain itu garis kontur harus merupakan garis yang tertutup baik di dalam maupun di luar peta.

Pada gambar berikut ditunjukan jenis-jenis garis kontur:
a. Kontur Sebuah Bukit

b. Kontur pada daerah datar

C.Kontur Sebuah Sungai


Sifat-sifat garis kontur adalah sebagai berikut:
1.      Garis kontur selalu merupakan garis tertutup (loop), kecuali pada batas peta.
2.      Dua buah garis kontur dengan ketinggian yang berbeda tidak mungkin saling berpotongan.
3.      Garis kontur tidak mungkin bercabang (dalam hubungannya dengan keaslian alam, kecuali buatan manusia).
4.     Garis kontur dengan ketinggian berbeda tidak mungkin menjadi satu, kecuali pada bagian tanah yang vertikal akan digambarkan sebagai garis yang berimpit.
5.      Semakin miring keadaan tanah, kontur akan digambarkan semakin rapat.
6.      Semakin landai kondisi tanah, kontur yang digambarkan semakin jarang.
7.      Garis kontur yang melalui tanjung/lidah bukit akan cembung kearah turunnya tanah.
8.      Garis kontur yang melalui lembah atau teluk akan cembung kearah titik atau hulu lembah.
9.      Garis kontur yang memotong sungai akan cembung kearah hulu sungai.
10.  Garis kontur yang memotong jalan akan cembung kearah turunnya jalan.

Garis kontur  merupakan ciri khas yang membedakan peta topografi dengan peta lainnya dan digunakan untuk penggambaran relief atau tinggi rendahnya permukaan bumi yang dipetakan. Dari pengertian di atas dapat dipahami betapa pentingnya garis kontur antara lain untuk pembuatan trace jalan/rel dan menghitung volume galian dan timbunan.
Share:

23 September 2009

Contoh Pengolahan data Theodolite (Poligon Tertutup)

Pada Artikel ini kita akan membahas contoh pengolahan data dari hasil pembacaan theodolite menjadi data koordinat peta agar selanjutnya dapat diplotkan ke dalam gambar

Berikut disajikan data hasil pembacaan theodolite serta jarak antar titik pembacaan

No Sudut Azimuth Jarak
α d (m)
P2 182 ° 7 ' 0 " 331 ° 47 ' 48" 66,9
P3 176 ° 46 ' 23 "





75,55
P4 280 ° 12 ' 35 "







41
P5 82 ° 37 ' 0 "







61,05
P6 90 ° 26 ' 55 "







99
P7 175 ° 31 ' 20 "







62
P8 95 ° 23 ' 10 "







64
P9 177 ° 47 ' 50 "







66,3
P10 179 ° 35 ' 35 "







63,75
P11 96 ° 25 ' 15 "







35
P12 174 ° 32 ' 35 "







44,15
P13 274 ° 35 ' 25 "







53
P14 84 ° 12 ' 55 "







49,1
P1 89 ° 45 ' 15 "







54,5

Dengan data tersebut maka kita telah dapat mengolah data tersebut untuk menentukan koordinat titik pada setiap titik pengujian, Berikut langkah-langkah perhitungannya,

1. Menghitung Sudut
















Σ Sudut =
2159 ° 59 ' 13 "




(n-2) . 180 = (14-2) 180 = 2160 °




















Selisih =
2160 °
- 2159 ° 59 ' 13 "




=
47 "










2. Menghitung Azimuth













331 ° 47 ' 48 "










176 ° 46 ' 23 " ( -180 ° ) +





328 ° 34 ' 11 " (+ -360 ° )






280 ° 12 ' 35 " ( -180 ° ) +





68 ° 46 ' 46 " (+ 360 ° )






82 ° 37 ' 0 " ( -180 ° ) +





331 ° 23 ' 46 "










90 ° 26 ' 55 " ( -180 ° ) +





241 ° 50 ' 41 "










175 ° 31 ' 20 " ( -180 ° ) +





237 ° 22 ' 1 "










95 ° 23 ' 10 " ( -180 ° ) +





152 ° 45 ' 11 "










177 ° 47 ' 50 " ( -180 ° ) +





150 ° 33 ' 1












179 ° 35 ' 35 ( -180 ° ) +





150 ° 8 ' 36












96 ° 25 ' 15 = ( -180 ° ) +





66 ° 33 ' 51












174 ° 32 ' 35 ° ( -180 ° ) +





61 ° 6 ' 26 "










274 ° 35 ' 25 " ( -180 ° ) +





155 ° 41 ' 51 "










84 ° 12 ' 55 " ( -180 ° ) +





59 ° 54 ' 46 "










89 ° 45 ' 15 " ( -180 ° ) +





-31 ° 40 ' 1 " (+ 360 ° )






182 ° 7 ' 0 " ( -180 ° ) +





331 ° 47 ' 1 "



























Koreksi: 331 ° 47 ' 1 "










331 ° 47 ' 48 " -









0 ° 0 ' 13 "
Ok…





























































3. Menentukan d sin α dan d cos α








∆x = d sin α














∆XP2 =
66,9 x  Sin ( 331 ° 47 ' 48 " )    = -31,61708 m
∆XP3 =
75,55 x  Sin ( 328 ° 34 ' 11 " )    = -39,39635 m
∆XP4 =
41 x  Sin ( 68 ° 46 ' 46 " )    = 38,21995 m
∆XP5 =
61,05 x  Sin ( 331 ° 23 ' 46 " )    = -29,22778 m
∆XP6 =
99 x  Sin ( 241 ° 50 ' 41 " )    = -87,28553 m
∆XP7 =
62 x  Sin ( 237 ° 22 ' 1 " )    = -52,21277 m
∆XP8 =
64 x  Sin ( 152 ° 45 ' 11 " )    = 29,30090 m
∆XP9 =
66,3 x  Sin ( 150 ° 33 ' 1 " )    = 32,59703 m
∆XP10 =
63,75 x  Sin ( 150 ° 8 ' 36 " )    = 31,73679 m
∆XP11 =
35 x  Sin ( 66 ° 33 ' 51 " )    = 32,11271 m
∆XP12 =
44,15 x  Sin ( 61 ° 6 ' 26 " )    = 38,65445 m
∆XP13 =
53 x  Sin ( 155 ° 41 ' 51 " )    = 21,81237 m
∆XP14 =
49,1 x  Sin ( 59 ° 54 ' 46 " )    = 42,48443 m
∆XP1 =
54,5 x  Sin ( -31 ° 40 ' 1 " )    = -27,52390 m +
















-0,34477
Koreksi =
0,34477
: 14 = 0,02463 m


















∆x = ∆X + Koreksi













∆XP2 =
-31,61708
+ 0,02463
=
-31,59245 m
∆XP3 =
-39,39635
+ 0,02463
=
-39,37172 m
∆XP4 =
38,21995
+ 0,02463
=
38,24458 m
∆XP5 =
-29,22778
+ 0,02463
=
-29,20315 m
∆XP6 =
-87,28553
+ 0,02463
=
-87,26090 m
∆XP7 =
-52,21277
+ 0,02463
=
-52,18814 m
∆XP8 =
29,30090
+ 0,02463
=
29,32552 m
∆XP9 =
32,59703
+ 0,02463
=
32,62166 m
∆XP10 =
31,73679
+ 0,02463
=
31,76141 m
∆XP11 =
32,11271
+ 0,02463
=
32,13734 m
∆XP12 =
38,65445
+ 0,02463
=
38,67907 m
∆XP13 =
21,81237
+ 0,02463
=
21,83700 m
∆XP14 =
42,48443
+ 0,02463
=
42,50905 m
∆XP1 =
-27,52390
+ 0,02463
=
-27,49927 m +















0,0000

∆Y = d cos Î±














∆YP2 =
66,9 x  cos ( 331 ° 47 ' 48 " )    = 58,95736 m
∆YP3 =
75,55 x  cos ( 328 ° 34 ' 11 " )    = 64,46495 m
∆YP4 =
41 x  cos ( 68 ° 46 ' 46 " )    = 14,84032 m
∆YP5 =
61,05 x  cos ( 331 ° 23 ' 46 " )    = 53,59888 m
∆YP6 =
99 x  cos ( 241 ° 50 ' 41 " )    = -46,71441 m
∆YP7 =
62 x  cos ( 237 ° 22 ' 1 " )    = -33,43392 m
∆YP8 =
64 x  cos ( 152 ° 45 ' 11 " )    = -56,89866 m
∆YP9 =
66,3 x  cos ( 150 ° 33 ' 1 " )    = -57,73321 m
∆YP10 =
63,75 x  cos ( 150 ° 8 ' 36 " )    = -55,28869 m
∆YP11 =
35 x  cos ( 66 ° 33 ' 51 " )    = 13,92026 m
∆YP12 =
44,15 x  cos ( 61 ° 6 ' 26 " )    = 21,33204 m
∆YP13 =
53 x  cos ( 155 ° 41 ' 51 " )    = -48,30342 m
∆YP14 =
49,1 x  cos ( 59 ° 54 ' 46 " )    = 24,61470 m
∆YP1 =
54,5 x  cos ( -31 ° 40 ' 1 " )    = 47,03919 m +
















0,39540
Koreksi =
-0,39540
: 14 = -0,02824 m


















∆Y = ∆Y + Koreksi













∆YP2 =
58,95736
+ -0,02824
=
58,92912 m
∆YP3 =
64,46495
+ -0,02824
=
64,43671 m
∆YP4 =
14,84032
+ -0,02824
=
14,81208 m
∆YP5 =
53,59888
+ -0,02824
=
53,57063 m
∆YP6 =
-46,71441
+ -0,02824
=
-46,74265 m
∆YP7 =
-33,43392
+ -0,02824
=
-33,46216 m
∆YP8 =
-56,89866
+ -0,02824
=
-56,92690 m
∆YP9 =
-57,73321
+ -0,02824
=
-57,76145 m
∆YP10 =
-55,28869
+ -0,02824
=
-55,31693 m
∆YP11 =
13,92026
+ -0,02824
=
13,89202 m
∆YP12 =
21,33204
+ -0,02824
=
21,30380 m
∆YP13 =
-48,30342
+ -0,02824
=
-48,33167 m
∆YP14 =
24,61470
+ -0,02824
=
24,58646 m
∆YP1 =
47,03919
+ -0,02824
=
47,01094 m +















0,00000



















4. Menentukan Koordinat (X,Y)









XP4 = XP3 + ∆XP3













XP4  =
1000,00 + ( -39,37172 )
= 960,62828 m
XP5 =
960,62828 +
38,24458

= 998,87286 m
XP6 =
998,87286 + ( -29,20315 )
= 969,66971 m
XP7 =
969,66971 + ( -87,26090 )
= 882,40880 m
XP8 =
882,40880 + ( -52,18814 )
= 830,22066 m
XP9 =
830,22066 +
29,32552

= 859,54619 m
XP10 =
859,54619 +
32,62166

= 892,16785 m
XP11 =
892,16785 +
31,76141

= 923,92926 m
XP12 =
923,92926 +
32,13734

= 956,06660 m
XP13 =
956,06660 +
38,67907

= 994,74567 m
XP14 =
994,74567 +
21,83700

= 1016,58267 m
XP1 =
1016,58267 +
42,50905

= 1059,09172 m
XP2 =
1059,09172 + ( -27,49927 )
= 1031,59245 m
Koreksi,















XP3 =
1031,59245 + ( -31,59245 )
= 1000,00 m
















(Koreksi OK!!!)


















YP4 = XP3 + ∆XP3













YP4  =
1000,00 +
64,43671

= 1064,43671 m
YP5 =
1064,43671 +
14,81208

= 1079,24879 m
YP6 =
1079,24879 +
53,57063

= 1132,81942 m
YP7 =
1132,81942 + ( -46,74265 )
= 1086,07677 m
YP8 =
1086,07677 + ( -33,46216 )
= 1052,61461 m
YP9 =
1052,61461 + ( -56,92690 )
= 995,68770 m
YP10 =
995,68770 + ( -57,76145 )
= 937,92625 m
YP11 =
937,92625 + ( -55,31693 )
= 882,60932 m
YP12 =
882,60932 +
13,89202

= 896,50134 m
YP13 =
896,50134 +
21,30380

= 917,80514 m
YP14 =
917,80514 + ( -48,33167 )
= 869,47348 m
YP1 =
869,47348 +
24,58646

= 894,05994 m
YP2 =
894,05994 +
47,01094

= 941,07088 m
Koreksi,















YP3 =
941,07088


58,92912

= 1000,00 m
















(Koreksi OK!!!)


dari Hasil Perhitungan maka diperoleh data sebagai berikut,


No X Y
P2 1031,5924 941,0709
P3 1000,0000 1000,0000
P4 960,6283 1064,4367
P5 998,8729 1079,2488
P6 969,6697 1132,8194
P7 882,4088 1086,0768
P8 830,2207 1052,6146
P9 859,5462 995,6877
P10 892,1678 937,9263
P11 923,9293 882,6093
P12 956,0666 896,5013
P13 994,7457 917,8051
P14 1016,5827 869,4735
P1 1059,0917 894,0599

data ini selanjutnya dapat diplotkan pada gambar dan diperoleh Peta Lahan yang kita ukur, Semoga artikel ini bermanfaat
Share:

OUR YOUTUBE CHANNEL

Join Our Fanpage

KUNJUNGI BLOG KAMI LAINNYA



Total Pageviews

Blogroll