Selamat datang di zona Atmadilaga

Mari berbagi informasi, pengalaman, dan wawasan, .
setetes tinta melahirkan jutaan inspirasi
Showing posts with label Pondasi. Show all posts
Showing posts with label Pondasi. Show all posts

22 May 2013

Download ASTM dan SNI untuk Perencanaan dan Pelaksanaan Konstruksi Pondasi

Untuk rekan-rekan para dan calon Civil Engineer, pada postingan kali ini, saya akan mensharingkan link file Scan ASTM dan SNI biasa diperlukan sebagai refferensi untuk pengujian tanah serta pengambilan sampel tanah guna mendesain pondasi, pengujian beton, persyaratan bahan sebagai campuran beton, persyaratan beton ready mix, hingga pengujian beban dukung pondasi yang dapat dibuka maupun didownload melalui Google Docs, (Sepertinya ini fasilitas penyimpanan file Online teraman untuk saat ini) .

Berikut Linknya (klik);

Thanx
Share:

03 December 2011

FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERTIMBANGKAN TERHADAP PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PONDASI


Air Tanah (m.a.t)


Berdampak terhadap kapasitas dukung, stabilitas keseluruhan, ganguan dewatering (mengeringkan sumur tetangga), dan teknik pelaksanaan (lempung becek diinjak-injak pekerja secara berlebihan dapat merusak kap. dukung tanah).


https://atmadilaga27.blogspot.com


Podasi bisa miring pada tanah granular terendam air akibat gerusan pada dasar pondasi. Sehingga disarankan jangan dibawah m.a.t atau dengan teknik pelaksanaan yang baik.


Pondasi Baru Dekat dengan Pondasi Lama

https://atmadilaga27.blogspot.com


Pondasi lama akan terbawa turun juga akibat beban pondasi baru. Solusinya dengan pengaturan jarak yang cukup (sebaran beban 1:1) atau gunakan sheet pile.

https://atmadilaga27.blogspot.com
Suku ke-2 kapasitas dukung tanah akan hilang, sehingga kapasitas dukung menjadi berkurang. Solusi dengan pengaturan jarak yang cukup (sebaran 1:1) atau gunakan sheet pile/buis beton.


Volume konstan akan menggesar tanah secara lateral dan bangunan kecil akan terdorong ke samping. Dapat juga bangunan kecil akan terbawa turun. Jika bangunan besar turun 5 cm biasa saja, tetapi kalau bangunan kecil bagaimana ? Solusi buat pondasi pile hingga lapisan keras/lap batuan.






Berkatian dengan Aliran Air (erosi)


https://atmadilaga27.blogspot.com


Dasar pondasi harus dibawah pengaruh gerusan.


Pondasi diatas tanah pasir yang tidak padat


https://atmadilaga27.blogspot.com


Masalah yang timbul adalah setlement, erosi air baik dipermukaan maupun didalam tanah. Untuk mencegah dampak erosi permukaan diperlukan kedalaman pondasi yang cukup, namun untuk erosi yang ada dalam tanah diusahakan jangan ada pemompaan atau aliran air.




Pondasi diatas tanah ekspansif


https://atmadilaga27.blogspot.comhttps://atmadilaga27.blogspot.com
             Pondasi Terdorong Masuk               Pondasi Terangkat


Sifat tanah ekspansif : pada saat basah mengembang dan pada saat kering tanah menyusut baik ke arah vertikal (dominan) maupun horisontal.


https://atmadilaga27.blogspot.com

Pada jalan jika penyusutan tidak bersamaan, aspal akan pecah-pecah. Sedangkan pada saat pengembangan kapasitas dukung tanah mengecil yang dapat berakibat penurunan yang tidak merata.


Solusi : Mengganti tanah dengan tanah yang baik, perbaikan tanah dengan bahan kimia (semen/kapur), pengontrolan kadar air agar tidak terjadi penyusutan dan pengembangan.

https://atmadilaga27.blogspot.com

Untuk pondasi dapat dipasang rongga pengatur kembang susut.


https://atmadilaga27.blogspot.com


Untuk pondasi tiang, agar tiang tidak terpengaruh kebang susut dapat digunakan pelapis bitumen agar permukaan tiang licin sehingga tidak menarik maupun mendorong tiang.


Untuk pasangan tegel rumah diatas tanah ekspansif disarankan,

https://atmadilaga27.blogspot.com


Sedangkan untuk pondasi telapak disarankan mengganti lapisan ekspansif dengan jenis tanah yang tidak ekspansif.
https://atmadilaga27.blogspot.com


Pondasi diatas tanah lempung non-ekspansif


Laminating Clays (lempung keras tapi berlapis dan bercelah) akan menyebabkan bidang licin jika ada air hujan sehingga qu tidak bisa ditetapkan besarnya. Disarankan menggunakan residual strength-nya. Lempung lunak akan menimbulkan masalah setlement dan kapasitas dukung yang rendah dan jenis tanah ini dapat mengalir dan menggeser tiang pancang.


Pondasi diatas timbunan yang tidak direncanakan


Jika akan mendesain pondasi diatas timbunan yang tidak direncanakan perlu diyakinkan dahulu materialnya apa, dan keseragaman/kepadatannya bagaimana. Apakah materialnya berupa sampah, puing bangunan, tanah bekas tanaman atau kayu. Masalah yang timbul adalah perbadaan setlement akibat kepadatan dan keseragaman yang berbeda-beda.


FAKTOR LINGKUNGAN YANG PERLU DIPERHATIKAN


PRINSIP : Menjaga Kelestarian Lingkungan dengan mempertimbangkan dampak pada lingkungan, meminimalkan dampak dan mencegah serta mengatasi dan memperbaiki.


PENGEBORAN


Saat penyelidikan tanah, lubang bor jangan dibiarkan terbuka untuk menghindari pencemaran air tanah. Perlu dipikirkan penyelamatan Top Soil, pencegahan kerusakan struktur tanah pada pengoboran di dekat sungai /aliran air serta efek pengeboran pada muka air tanah terutama di atas lapisan rapat air.


BAHAN GALIAN


Bahan galian jangan masuk ke saluran drainase dan tercecer dijalan.


PELAKSANAAN PONDASI


Pertimbangkan dampak kebisingan dan getaran akibat pemancangan tiang.


PENGGUNDULAN TANAMAN


Pertimbangkan erosi dan instabilitas lereng serta kembang susut aktif.


PEKERJAAN DITEPI SUNGAI/LAUT


Reklamasi pantai akan menyebabkan hidraulik gradien turun, aliran air lamban dan banjir. Pertimbangkan pengaruh intrusi air laut dan keragaman hayati.

https://atmadilaga27.blogspot.com


PEMOTONGAN BUKIT


Perlu dipertimbangkan bahaya longsor.


PENGEMBANGAN DAERAH YANG DILINDUNGI


Pantai berterumbu karang, berbakau dan pasir bukit alami.
Share:

KAPASITAS DUKUNG TANAH UNTUK BEBAN STATIK

Kapasitas dukung ultimit (qult) didefinisikan sebagai tekanan terkecil yang dapat menyebabkan keruntuhan geser pada tanah pendukung tepat di bawah dan di sekeliling pondasi.

https://atmadilaga27.blogspot.comhttps://atmadilaga27.blogspot.com

Ada 3 kemungkinan pola keruntuhan kapasitas dukung tanah yakni,
1. General Shear Failure
https://atmadilaga27.blogspot.comhttps://atmadilaga27.blogspot.comhttps://atmadilaga27.blogspot.com
  • Kondisi kesetimbangan plastis terjadi penuh diatas failure plane.
  • Muka tanah disekitarnya mengembang (naik).
  • Keruntuhan (slip) terjadi di satu sisi sehingga pondasi miring.
  • Terjadi pada tanah dengan kompresibilitas rendah (padat atau kaku).
  • Kapasitas dukung ultimit (qult) bisa diamati dengan baik.
2. Local Shear Failure

Muka tanah disekitar kurang berarti pengembangannya, karena cukup besar
desakan ke bawah pondasi.
Kondisi kesetimbangan plastis hanya terjadi pada sebagian tanah saja.
Miring pada pondasi diperkirakan tidak terjadi.
Terjadi pada tanah dengan kompresibilitas tinggi ditunjukan dengan setlement yang relatif besar.
Kapasitas dukung ultimit sulit dipastikan sehingga sulit dianalisis, hanya bisa dibatasi setlementnya saja.

3. Punching Shear Failure

  • Terjadi jika terdapat desakan pada tanah di bawah pondasi yang disertai pergeseran arah vertikal disepanjang tepi.
  • Tak terjadi kemiringan dan pengangkatan pada permukaan tanah.
  • Penurunan relatif besar.
  • Terjadi pada tanah dengan kompresibiltas tinggi dan kompresibilitas rendah jika pondasi agak dalam.
  • Kapasitas dukung ultimit tidak dapat dipastikan.
  • Cara keruntuhan secara umum tergantung pada kompresibilitasnya dan kedalaman pondasi relatif terhadap lebarnya.
Analisis kapasitas dukung didasarkan kondisi general shear failure, gaya-gaya yang bekerja dapat dianalisis.

https://atmadilaga27.blogspot.com
Gambar di atas adalah mekanisme keruntuhan untuk pondasi menerus dengan lebar b dan panjang tak terbatas, memikul suatu tekanan merata (qult) diatas permukaan tanah yang homogen dan isotropik. Parameter kekuatan geser tanah adalah c dan φ tetapi berat isi tanah diasumsikan sama dengan nol. Pondasi akan tertekan ke bawah dan menghasilkan suatu kesetimbangan plastis dalam bentuk zona segi tiga di bawah pondasi dengan sudut ABC = BAC = 45° + φ /2. Gerakan bagian tanah ABC ke bawah mendorong tanah diampingnya ke kesamping. Zona Rankine pasif ADE dan BGF akan terbentuk dengan sudut DEA = GFB = 45° - φ /2. Transisi antara gerakan ke bawah bagian ABC dan gerakan lateral bagian ADE dan BGF akan terjadi di sepanjang zona geser radial ACD dan BCG. Kesetimbangan plastis akan terjadi pada permukaan EDCGF sedangkan sisa tanah lainnya berada dalam kesetimbangan elastis.

Biasanya pondasi tidak diletakan pada permukaan tanah, dalam praktek diasumsikan kenaikan geser tanah antara permukaan dan kedalaman Df diabaikan, tanah tersebut hanya diperhitungkan sebagai beban yang menambah tekan merata q pada elevasi pondasi, hal ini disebabkan tanah diatas elevasi pondasi biasanya lebih lemah, khususnya jika diurug, daripada tanah pada tempat yang lebih dalam. Kapasitas dukung ultimit di bawah pondasi menerus dapat dinyatakan dengan persamaan Terzaghi (1943),

qult = c Nc + q Nq + ½ b γ Nγ

φ, c, γ nilainya diambil di bawah pondasi.

dengan,

q = γ .Df

g nilanya diambil di atas elevasi pondasi.

Persamaan diatas dikembangkan oleh Terzaghi dari teori Prandth-Reissner hingga menghasilkan persamaan,

qult = c [ tan φ (kc + 1)] + q (tan φ) kq + ½ b γ [ tan φ (kγ tanφ - 1) ]

= c Nc + q Nq + ½ b γ Nγ

Nilai Nc, Nq, Nγ tidak dapat dilacak dari mana asalnya karena Terzaghi hanya memberikan grafik φ VS Nc, Nq, Nγ dan bukannya sebuah rumus sehingga tiap buku yang ada nilai Nc, Nq, Nγ dapat berbeda-beda.

Untuk pondasi telapak bentuk bujur sangkar :

qult = 1.3 c Nc + q Nq + 0.4 b γ Nγ

Untuk pondasi telapak bentuk lingkaran :

qult = 1.3 c Nc + q Nq + 0.3 b γ Nγ

Analisis kapasitas dukung didasarkan kondisi local shear failure pada pondasi menerus,

q’ult = c’ Nc’ + q Nq’ + ½ b γ Ng’

dengan,

c’ = 2/3 c

tan j ’ = 2/3 tan φ

Local shear failure dapat terjadi untuk nilai φ ‹ 30°. Untuk pondasi bentuk lainya, caranya sama dengan mencari qult. Persamaan q’ult hanya untuk memuaskan user, tidak ada alasan ilmiah yang mendukung teori ini. Teori ini hanya ada dari Terzaghi saja.

Catatan :
Untuk keamanan besar dapat digunakan rumus local shear failure, kapasitas dukung lebih rendah, setlement tidak perlu dihitung.
Untuk lebih realistis setelah pengecekan terhadap qult (general shear failure), pondasi perlu dichek terhadap setlement (hasil lab). Dapat juga hasil lab dibandingkan dengan uji lapangan (SPT atau CPT). Hasil qult lab biasanya lebih besar dari qult lapangan (pendekatan). Mengapa hasil qult lapangan nilainya lebih rendah ? karena teorinya hanya sederhana, tanah dibagi menjadi tanah kohesif dan non-kohesif.
Kondisi khusus,

pada tanah non-kohesif c = 0 maka qult = q Nq + ½ b γ Ng
pada tanah kohesif j = 0 maka Nc = 5.7, Nq=1, Nγ=0, qult = 5.7 c + q
pondasi pada permukaan tanah Df = 0 maka qult = c Nc + ½ b γ Nγ

Perkembangan rumus setelah qult Terzaghi, Nc & Nq diambil nilainya dari Prandth(1921) – Reissner (1924),
Nq = e^(Ï€.tanφ) tan^2 (45° + φ/2)
Nc = ( Nq – 1 ) Cot φ

Sedangkan nilai Nγ diusulkan,

Nγ = ( Nq – 1 ) tan 1.4 φ Mayerhof (1963)

Nγ = 1.8 ( Nq – 1 ) tan φ Hansen (1968)

Nγ = 2 ( Nq + 1 ) tan φ Coquot & Kerisek – nilainya terlalu besar.

Untuk faktor bentuk, faktor kedalaman dan faktor kemiringan beban yang diusulkan oleh DeBeer (1970) dan Mayerhof (1953) secara empiris hasil observasi percobaan. Untuk keperluan praktis, nilai qult yang di usulkan Terzaghi memberikan hasil yang cukup baik. Perlu diketahui bahwa hasil-hasil perhitungan kapasitas dukung sangat peka terhadap nilai-nilai asumsi parameter kekuatan geser terutama untuk nilai j yang tinggi. Akibatnya perlu dipertimbangkan keakuratan parameter-parameter kekuatan geser yang digunakan.

Beberapa alasan mengapa data hasil lab perlu di tinjau (jangan dipercaya langsung) :
  • Tingkat ketergangguannya.
  • Kondisi lapangan apa cukup baik.
  • Kondisi struktur tanah sample tidak dapat mewakili.
  • Kalau terdapat krikil dalam sample, krikil dibuang sehingga mungkin kapasitasdukung lapangan lebih besar dari lab.

Pengaruh Air Terhadap Kapasitas Dukung Tanah.
Air dapat mengurangi kapasitas dukung tanah hingga ½-nya (Terzaghi), untuk pasir pendapat ini terlalu kecil dan untuk lempung pendapat ini terlalu besar. Berdasar elevasi MAT terhadap pondasi nilai qult menjadi,




Sebenarnya perlu juga koreksi nilai φ dan c selain nilai γ akibat adanya M.A.T, namun di lapangan dapat digunakan nilai φ dan c terlemah.

KAPASITAS DUKUNG TANAH DI ATAS TANAH BERLAPIS
  • Tanah tak padat di atas tanah yang lebih padat.
  • Jika tanah kurang padat lebih tebal – gunakan kapasitas dukung lapisan tsb.
  • Jika tanah kurang padat lebih tipis – pengaruh lapisan yang lebih padat.
  • Tanah lebih padat di atas tanah kurang padat.
  • Jika tanah lebih padat tebal – kapasitas dukung tanah yang lebih padat dan chek setlement lapisan kurang padat.
  • Jika tanah lebih padat tipis -- pertimbangkan patah pons (pada lap. Cadas)
  • jika pondasi diletakan diatas lap.cadas sehingga gunakan kapasitas dukung lapisan kurang padat.
Share:

08 November 2011

Podasi Rumah Tinggal


Pondasi merupakan bagian struktur yang paling bawah dari sebuah rumah. Karena fungsinya sangat penting, pemilihan pondasi pun harus sesuai dengan kebutuhan.
Rumah ibarat tubuh manusia. Agar dapat berdiri dengan tegak dan tidak jatuh, tubuh manusia membutuhkan kerjasama antarelemen, seperti tulang, otot, dan saraf. Begitu juga dengan rumah. Memiliki elemen-elemen struktur yang saling bekerjasama mutlak diperlukan agar menghasilkan rumah yang berstruktur kuat, stabil, kokoh, aman untuk ditempati, dan nyaman.
Elemen-elemen struktur tersebut terbagi menjadi dua kelas besar, sesuai dengan letak dan tugasnya. Bagian pertama merupakan elemen struktur yang berada di bawah tanah, yang biasa disebut pondasi. Sedangkan bagian yang lain adalah elemen-elemen struktur yang berada di atas tanah.

Daya Dukung Tanah
Elemen struktur yang di bawah tanah, alias pondasi, bertugas sebagai dasar dari bangunan dan meneruskan beban bangunan tersebut ke tanah yang cukup kuat mendukungnya.
Tanah memiliki kemampuan atau daya dukung yang berbeda-beda. Hal ini dapat diketahui dengan cara melakukan tes penyelidikan tanah. Permukaan dasar pondasi lebih baik bila langsung menyentuh tanah keras. Dengan demikian, semua beban yang harus disalurkan ke dalam tanah dapat langsung didistribusikan ke permukaan tanah keras.
Bila bangunan berdiri di atas tanah yang memiliki daya dukung rendah, bangunan tersebut dipastikan akan melesak ke dalam tanah. Ibaratnya seperti kepalan tangan yang ditekankan pada sepotong roti. Di permukaan roti pasti terdapat lubang sebesar kepalan tangan tersebut. Berbeda bila kepalan tangan tersebut ditekan pada sepotong besi. Apa yang terjadi? Tidak ada lubang bekas kepalan tangan di permukaan besi.
Kepalan tangan tersebut diandaikan sebuah rumah yang memiliki bobot dan akan diletakkan di atas tanah. Rumah tersebut memiliki berat yang berasal dari benda yang berada di atas atau di dalam rumah tersebut, seperti atap, lantai, dinding, perabot, manusia, air hujan. Berat rumah tersebut harus dapat didukung oleh tanah yang ada di bawahnya.
Daya dukung tanah memiliki satuan kg/cm2 atau t/m2. Contohnya, sebuah lahan memiliki daya dukung tanah 0,75 kg/cm2. Artinya, setiap sentimeter persegi tanah mampu mendukung 0,75 kg berat bangunan. Bila ternyata setiap sentimeter persegi tanah dibebani lebih dari 0,75 kg (misalnya 1 kg), maka akan terjadi kelebihan beban setiap sentimeter persegi dan bangunan akan mengalami penurunan.

Beban Bangunan
Untuk mengetahui berat bangunan perlu diketahui fungsi ruang di dalam rumah serta elemen struktur dan arsitektur apa saja yang digunakan. Elemen struktur dan arsitektur tersebut adalah elemen yang ada di atas pondasi dan pondasinya sendiri, seperti berat atap, berat dinding, berat perabotan, dan berat pondasi.
Berat bangunan adalah hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Berat bangunan tersebut harus dapat disalurkan oleh pondasi ke permukaan tanah keras. Contohnya, bila sebuah rumah dilengkapi dengan perpustakaan, maka beban yang dihitung harus lebih besar, karena buku-buku memiliki berat lebih besar setiap meter perseginya.

Pada intinya, pondasi menjaga kestabilan bangunan terhadap beratnya sendiri akibat dari beban struktur bangunan dan beban hidup maupun gaya dari luar bangunan, seperti angin, gempa, dan air hujan.

Pondasi-Menerus
Pondasi bangunan dibedakan atas pondasi-dangkal dan pondasi-dalam. Menurut Ir. Rudi Gunawan dalam buku Pengantar Teknik Pondasi, dijelaskan bahwa perbedaan antara pondasi-dangkal dan pondasi-dalam terletak pada perbandingan antara kedalaman dasar pondasi dari muka tanah (D) dengan lebar pondasinya (B).
Biasanya rumah tinggal menggunakan pondasi- dangkal dengan perbandingan D lebih kecil atau sama dengan B (D<=B). Kedalaman pondasi (D) biasanya antara 0,6 m sampai 3 m. Pondasi-dangkal juga dikenal dengan nama pondasi-langsung, karena semua beban bangunan langsung disalurkan ke permukaan tanah keras dengan cara menyebarkan beban bangunan.
Sesuai dengan prinsipnya, beban harus langsung disebarkan ke permukaan dasar pondasi. Dengan demikian, setiap sentimeter  persegi permukaan dasar pondasi harus menyalurkan beban kurang atau sebesar dari daya dukung tanah yang ada.
Masih menurut Ir. Rudi Gunawan, ada beberapa jenis pondasi-dangkal, yaitu pondasi-menerus, pondasi-telapak, pondasi-kaki gabungan, dan pondasi-plat. Pondasi yang biasa digunakan untuk rumah tinggal tidak bertingkat adalah pondasi-menerus. Artinya, pondasi dibuat sepanjang dinding yang ada di rumah tersebut.
Lebar dasar pondasi-menerus adalah 2,5 kali dari tebal dinding. Jadi, tebal pondasi minimal 70 cm untuk dinding 1/2 bata(1) dan minimal 90 cm untuk dinding 1 bata(2). Kedalaman pondasi-menerus untuk di atas tanah keras dengan dinding 1/2 bata cukup 60 cm sampai 80 cm, sedangkan untuk dinding 1 bata, kedalamannya 80 cm sampai 100 cm. Bila bangunan memikul beban yang cukup berat, sementara daya dukung tanahnya kecil, maka digunakan pondasi-menerus dari plat beton bertulang.
Di atas batu kali pada pondasi-menerus harus dipasangi balok sloof beton bertulang untuk meratakan beban. Fungsi lain dari sloof adalah sebagai pengikat antara struktur bagian atas tanah dengan struktur bagian dalam tanah atau pondasi. Ikatan antara sloof dengan elemen struktur lainnya dapat menggunakan angkur.

Pondasi-Telapak
Salah satu jenis pondasi yang biasa digunakan pada rumah tinggal adalah pondasi-telapak. Pondasi ini harus memiliki ketebalan yang cukup, untuk menghindari sobekan pada telapaknya akibat beban yang cukup berat.
Untuk menghitung luas permukaan dasar pondasi-menerus dan pondasi-telapak digunakan rumus:
A (cm2) = Total berat bangunan (kg)

Daya dukung tanah (kg/cm2)
Luas permukaan dasar pondasi harus cukup besar, sesuai dengan ketebalan dinding. Selain permukaan pondasi tersebut dapat menyalurkan beban merata ke permukaan tanah keras, juga sebagai penstabil bangunan. Contoh perhitungan dapat dilihat pada boks.
Ada satu jenis pondasi lain yaitu pondasi rollag, yang khusus digunakan untuk pondasi-teras atau emperan. Pondasi jenis ini tidak untuk memikul dan menyalurkan beban bangunan yang berat. Pondasi ini terbuat dari batu bata atau dari batu kali, yang kedalamannya hanya 40 cm sampai 70 cm dan memiliki lebar 30 cm sampai 70 cm.

Ketepatan Pemilihan
Memilih pondasi yang akan digunakan pada rumah tinggal haruslah tepat. Ketidaktepatan dalam pemilihan pondasi akan berakibat fatal pada bangunan, seperti penurunan bangunan, sehingga tanah yang mengalami desakan akan terangkat naik. Akibat lain, struktur bangunan akan mengalami pergerakan dan terjadi retak-retak pada badan bangunan. Semakin lama retak tersebut akan semakin besar dan dapat menimbulkan keruntuhan bangunan.
Pemilihan pondasi, selain memperhitungkan keadaan tanah (daya dukung tanah), juga perlu memperhatikan lokasi dan fungsi bangunan. Jika bangunan tidak bertingkat berlokasi di tepi jalan raya yang dilewati oleh kendaraan berat, maka sebaiknya menggunakan pondasi-menerus yang ditambah perkuatan ekstra. Apalagi bila bangunan tersebut berada di  tanah yang memiliki perbedaan ketinggian yang cukup besar. Perkuatan ekstra yang dimaksud adalah pebambahan pondasi-menerus plat beton bertulang atau pondasi-telapak pada titik-titik pondasi di bawah kolom struktural.
Dapat dibayangkan bila rumah tinggal memiliki pondasi yang kurang tepat. Luas permukaan dasar pondasi yang tidak memenuhi syarat ibarat manusia yang memiliki tubuh besar tapi memiliki telapak kaki yang kecil. Akibatnya, tubuhnya mudah jatuh karena tidak ada kestabilan. Tidak mau, kan, hal ini terjadi pada rumah Anda?


Keterangan
(1) Dinding 1/2 bata = dinding yang terdiri dari pasangan bata yang disusun berdiri. Lebar dindingnya merupakan tebal batu bata atau sekitar 7,5 cm.
(2) Dinding 1 bata = dinding yang terdisi dari pasangan bata yang disusun tidur. Lebar dindingnya merupakan lebar batu bata atau sekitar 15 cm.

Contoh Kasus Perhitungan Ukuran Pondasi
Luas bangunan: 6 m x 9 m
Tebal dinding: 1 bata
Tinggi dinding: 4 m
Lebar teritisan: 1 m
Setelah dihitung, jumlah beban yang harus dipikul pada setiap titik pondasi adalah 3.960 kg. Bila satu titik pondasi memikul beban bangunan sebesar 3.960 kg dan daya dukung tanah yang ada sebesar 0,75 kg/cm2, berarti penghitungan permukaan dasar pondasi adalah sebagai berikut.
A =     3.960 kg =  52,8 cm = 53 cm
0,75 kg/cm2 x 100

Hasil penghitungan—yaitu 53 cm—lebih kecil dari 2,5 kali tebal tembok 1 bata (70 cm), sehingga yang digunakan adalah ukuran 70 cm. Sementara itu, kedalamannya 80 cm dari muka tanah.







Share:

Desain Pondasi Telapak (Foot plate)

Sebenarnya ketika akan merencanakan sebuah bangunan gedung, tidak bisa dilakukan secara parsial. Dimulai dari penentuan titik-titik pondasi, mendata kolom (kolom arah melintang, memanjang, kemudian memberi notasi/abjad, dsb). 

Sekarang kita asumsikan saja, anda hanya membutuhkan contoh desain pondasi. Diartikel kali ini, kita akan membahas tentang perencaan pondasi. Kasus yang diambil adalah perencaan pondasi jenis Foot Plate. Berikut adalah contoh perencanaan pondasi foot plate dimana tinjauannya adalah pada titik K2 (Perencanaan pondasi dibawah kolom K2) :

hitung-pondasi1.jpg
hitung-pondasi2.jpg
hitung-pondasi3.jpg
hitung-pondasi4.jpg
hitung-pondasi5.jpg
hitung-pondasi6.jpg
Hasil dari perhitungan pondasi diatas, selanjutnya dituangkan dalam gambar detail pondasi seperti gambar berikut ini :
pondasi-detail.jpg
(Gbr – Detail Foot plate)

Untuk perencanaan pondasi pada titik-titik yang lain, caranya kurang lebih sama. Tinggal ada data saja berapa jumlah titik kolom yang ada didalam layout bangunan yang akan anda rencanakan pondasinya. Demikianlah seri perencanaan bangunan kita kali ini, pada artikel yang berikutnya, kita akan membahas tentang perencanaan sloof (balok ikat, perencanaan kolom, balok, pelat, dan rangka atap. Semoga artikel kali ini dapat memberi manfaat buat kita semua..

Sumber : http://architectaria.com
Share:

OUR YOUTUBE CHANNEL

Join Our Fanpage

KUNJUNGI BLOG KAMI LAINNYA



Total Pageviews

Blogroll