Selamat datang di zona Atmadilaga

Mari berbagi informasi, pengalaman, dan wawasan, .
setetes tinta melahirkan jutaan inspirasi
Showing posts with label Perbaikan Tanah. Show all posts
Showing posts with label Perbaikan Tanah. Show all posts

22 January 2012

PILE LOADING TEST

Uji pembebanan tiang (pile loading test) adalah suatu metode yang digunakan dalam Pemeriksaan terhadap sejumlah beban yang dapat didukung oleh suatu struktur dalam hal ini adalah pondasi. Pile loading test diperlukan untuk membuktikan akurasi perhitungan desain kapasitas daya dukung tiang di lapangan

Ada 2 jenis pile load test :
- Static load test : compression, tension dan lateral
- Dynamic load test : Pile Driving Analysis

Pile load test biasanya dilakukan dgn 2 alternatif :
- Test/unused Pile, failure test (dilakukan hingga tiang mengalami keruntuhan)
- Test on a working pile (used pile), 200% design capacity

Tiang yang diuji dipilih dilokasi yang terdekat dengan penyelidikan tanah
Hasil dari pengujian beban ini berupa:
- Indikasi dari daya dukung batas yang terjadi
- Indikasi dari penurunan yang terjadi.

EQUIPMENTS

  • Hydraulic jack, diletakkan tepat ditengah permukaan dari tiang uji
  • Dial gauges, terdiri dari minimal 2 unit dengan ketelitian pembacaan paling sedikit sampai dengan 0.01 in (0.25 mm), untuk mengukur besarnya pergerakan yang terjadi
  • Reference beam, sebagai datum pembacaan dial gage dan diletakkan pada posisi melintang dengan jarak minimal 2.5 m ke kiri dan 2.5 m ke kanan dari tiang uji dan berada diatas pendukung yang kaku. Reference beam ini tidak boleh mengalami perubahan selama pengukuran berlangsung.
  • Pressure gage, untuk mengukur besarnya beban yang diberikan pada tiang uji.
  • Beban yang akan digunakan
         - Kentledge (kubus beton)
         - Reaction pile

  • Crosshead/load test beam

Contoh Load Test
- Kentledge (Kubus Beton)

https://atmadilaga27.blogspot.com
https://atmadilaga27.blogspot.com
https://atmadilaga27.blogspot.com


PROSEDUR TEST
• Standard Loading Test ASTM
• Cyclic Loading Test ASTM
• Slow Maintained Load Test Method (SM Test)
• Quick Maintained Load Test Method (QM Test)
• Constant Rate of Penetration Test Method (CRP Test)
• Swedish Cyclic Test Method (SC Test).

PROSEDUR PENGUKURAN

• Pembacaan dilakukan terhadap waktu, beban dan pergerakan tiang pada saat sebelum dan sesudah tahapan pembebanan diberikan atau dikurangi.
• Pada saat proses pemberian beban harus dipastikan bahwa tiang uji tidak mengalami keruntuhan. Untuk itu dilakukan pembacaan tambahan untuk selang waktu maksimal 10 menit selama 30 menit pertama dan selang waktu tidak lebih dari 20 menit untuk setelah 30 menit pertama tersebut.
• Setelah beban total diberikan harus dipastikan pula bahwa tiang uji tidak mengalami keruntuhan. Untuk itu dilakukan pembacaan tambahan untuk selang waktu maksimal 20 menit selama 2 jam pertama, selang waktu maksimal 1 jam untuk 10 jam berikutnya, serta tidak melewati selang waktu 2 jam untuk 12 jam berikutnya.
• Jika keruntuhan terjadi, lakukan pembacaan sesegera mungkin sebelum dilakukan pengurangan beban pertama.
• Selama proses pengurangan beban (unloading) lakukan pembacaan untuk selang waktu tidak melewati 20 menit.
• Lakukan pembacaan terakhir pada saat 12 jam setelah seluruh beban diangkat.

Standard Loading Test
Beban yang diujikan adalah sebesar 200% dari beban perencanaan dan dilaksanakan dengan pertambahan 25% dari beban perencanaan, kecuali jika terjadi keruntuhan sebelum beban tersebut dicapai.
Pertambahan beban dilakukan jika kecepatan penurunan yang terjadi tidak lebih besar dari 0.01 in/hour atau 0.25 mm/jam tetapi tidak lebih lama dari 2 jam.
Jika tidak terjadi keruntuhan maka total beban yang telah diberikan dapat diangkat kembali (unloading) setelah 12 jam didiamkan jika penurunan yang terjadi pada 1 jam terakhir tidak lebih besar daripada 0.01 in (0.25 mm). Jika penurunan yang terjadi masih lebih besar daripada 0.01 in (0.25 mm) maka biarkan beban selama 24 jam.
Jika waktu yang dimaksudkan pada item 3 diatas telah tercapai, maka kurangi beban dengan tahap pengurangan sebesar 50 % dari beban perencanaan atau 25 % dari beban total pengujian untuk setiap 1 jam.
Jika tiang mengalami keruntuhan maka pemompaan hydraulic jack dilanjutkan hingga penurunan yang terjadi adalah sama dengan 15% dari diameter tiang.

Cyclic Loading Test
Secara umum increment pemberian beban pada pembebanan cyclic ini adalah sama dengan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya.
Setelah beban yang diberikan sama dengan 50, 100, dan 150% dari beban desain, biarkan masing-masing beban tersebut untuk 1 jam dan angkat kembali beban dengan pengurangan yang sama besarnya dengan pada saat increment pemberian beban. Biarkan beban untuk selama 20 menit untuk tiap tahap pengurangannya.
Cyclic loading procedure, loading-unloading
Cycle 1: 0% 25% 50% 25% 0%
Cycle 2: 0% 50% 75% 100% 75% 50% 0%
Cycle 3: 0% 50% 100% 125% 150% 125% 100% 50% 0%
Cycle 4: 0% 50% 100% 150% 175% 200% 150% 100% 50%
Setelah beban yang diberikan diangkat semua untuk tiap tahapnya, berikan kembali beban dengan increment sebesar 50% dari beban desain sampai dengan sebesar tahap sebelum diangkat. Jarak antar increment tersebut adalah selama 20 menit. Kemudian beban tambahan untuk tahap berikutnya diberikan sesuai dengan prosedur yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya.
Setelah beban total yang disyaratkan telah diberikan, tahan dan angkat beban tersebut seperti yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya.

Slow Maintained Load Test Method (SM Method)
Beban terdiri dari 8 increment (25%, 50%, 75%, 100%, 125%, 150% 175% dan 200%) hingga 200% dari beban rencana.
Beban diberikan sesuai dengan masing-masing increment hingga dicapai penurunan sebesar 0.01 in/h (0.25 mm/jam) tetapi tidak lebih dari 2 jam pada setiap incrementnya.
Pada increment beban mencapai 200%, beban ditahan hingga 24 jam.
Jika waktu pada item 3 telah dicapai maka dilakukan pengurangan beban sebesar 25% pada tiap tahapnya dengan jarak masing-masing pengurangan tersebut adalah selama 1 jam.
Jika beban telah diberikan dan dikurangi seluruhnya, seperti pada langkah 1 hingga 4 diatas, berikan kembali beban sebesar 200% pada tiang dengan increment sebesar 50% dengan jarak masing-masing beban adalah selama 20 menit.
Jika beban yang diberikan telah dicapai seluruhnya (200% beban rencana) maka tambahkan kembali beban dengan increment sebesar 10% beban rencana hingga tiang mengalami keruntuhan. Jarak pada pertambahan beban ini adalah sebesar 20 menit.

Quick Maintained Load Test Method (QM Method)
Beban diberikan hingga 300% beban rencana dengan increment sebanyak 20 increment (masing-masing increment sebesar 15% beban rencana).
Beban ditahan pada setiap tahapnya untuk selama 5 menit dengan pembacaan dilakukan setiap 2.5 menit.
Tambahkan increment beban jika beban pada setiap tahap telah dicapai.
Setelah interval 5 menit, kurangi beban secara keseluruhan dalam 4 bagian increment yang sama besarnya dengan masing-masing pengurangan berjarak 5 menit.
Metoda ini cepat dan ekonomis. Waktu yang diperlukan untuk melakukan uji ini sekitar 3 jam hingga 5 jam. Metoda ini lebih menggambarkan kondisi undrained yang terjadi pada tiang. Metoda ini tidak dapat digunakan untuk memperkirakan penurunan yang terjadi.

Constant Rate of Penetration Test Method (CRP Test)
Kepala tiang diberikan beban hingga kecepatan penurunan yang terjadi sebesar 0.05 in/min (1.25 mm/menit).
Beban yang diperlukan untuk mencapai kecepatan penurunan seperti yang disebutkan pada item 1 kemudian dicatat.
Uji dilakukan hingga total penurunan mencapai 2 in hingga 3 in (50 mm hingga 75 mm).

Swedish Cyclic Test Method (SC Test)
Tiang diberikan beban sebesar sepertiga dari beban rencana.
Beban dikurangi hingga seperenam beban rencana. Penambahan dan pengurangan beban diulangi sebanyak 20 kali.
Tambahkan beban hingga 50 % lebih besar dari item 1 dan ulangi seperti pada item 2.
Prosedur ini dilakukan hingga terjadi keruntuhan.
Metoda ini memerlukan waktu yang cukup lama dan proses siklik merubah perilaku tiang hingga tiang sudah tidak sama dengan kondisi aslinya.

Interpretasi Loading Test
 Lihat bore log, lokasi testing
 Properties tiang (strength, dimensi)
 Driving Equipment (model hammer, total weight, ram weight, energy)
 Driving record.
 Code yg digunakan:
Intepretasi (load vs. time, displ vs. time, load vs. displ).

Interpretation Method
 Davisson’s Method (1972)
 Chin’s Method (1971)
 Mazurkiewicz’s Method (1972)
 De Beer’s Method (1967)
 Brinch Hansen’s Method (1963)
 Butler & Hoy’s Method (1977)
Vander Veen’s Method (1953)

Davisson’s Method
 Gambarkan kurva beban-penurunan.
 Tentukan penurunan elastis, Δ = (Qva)L/AE dari tiang dimana Qva adalah beban yang digunakan, L adalah panjang tiang, A adalah luas potongan melintang tiang, dan E adalah modulus elastisistas tiang.
 Gambarkan sebuah garis OA berdasarkan persamaan diatas
 Gambarkan sebuah garis BC yang sejajar dengan OA pada jarak sejauh dimana x = 0.15 + D/120 in, dimana D adalah diameter tiang dalam in.
Beban runtuh ditentukan dari perpotongan garis BC pada kurva beban-penurunan.


Interpretasi dengan Davisson’s Method


Chin’s Method

  • lGambar Δ/Qva terhadap Δ, dimana Δ adalah penurunan dan Qva adalah beban yang digunakan. 
  • lBeban ultimate (Qva)ult sama dengan 1/C1.

Interpretasi dengan Chin’s Method


Mazurkiewicz’s Method
 Plot kurva beban-penurunan.
 Pilih sejumlah penurunan dan gambarkan garis vertikal yang memotong kurva. Kemudian gambar garis horizontal dari titik perpotongan ini pada kurva sampai memotong sumbu beban.
 Dari perpotongan masing-masing kurva, gambar garis 450 sampai memotong garis beban selanjutnya.
 Perpotongan ini jatuh kira-kira pada garis lurus. Titik yang didapat oleh perpotongan dari perpanjangan garis ini pada sumbu vertikal (beban) adalah beban runtuh.
Metoda ini mengasumsikan bahwa kurva beban-penurunan berupa parabolic. Nilai beban keruntuhan yang didapat dari metoda ini seharusnya mendekati 80% dari kenyataan.

Interpretasi dengan Mazurkiewiecz’s Method


De Beer’s Method
• Plot load and movement on logarithmic scales.
• These values then fall on two straight lines.
• The failure load is then defined as the load that falls at the intersection of these two straight lines.


Interpretasi dengan De Beer’s Method
Share:

05 December 2011

Deep Soil Mixing (DSM) - Metode Perbaikan/Stabilisasi Tanah


Deep Soil Mixing (DSM) adalah teknologi perbaikan tanah yang digunakan untuk membangun cutoff atau dinding penahan dan memperlakukan tanah, in-situ. (DSM) adalah stabilisasi tanah dimana tanah dicampur dengan bahan reagen semen dan / atau lainnya. Reagen disuntikkan melalui kelly bar berongga yang berputar, dengan beberapa jenis peralatan pemotong di bagian bawah. Kelly bar di atas alat dapat memiliki auger tambahan diskontinu dan / atau paddles pencampur atau pisau.


Beberapa nama-nama lainnya yang digunakan untuk menggambarkan metode ini adalah Cement Deep Soil Mixing (CDSM), Deep Mixing Method (DMM), atau Soil Mix Wall (SMW).


Perbaikan tanah dengan DSM dicapai dengan serangkaian kolom tumpang tindih tanah stabil (biasanya 36-inci diameter biasanya 36-inci).


Pencampuran shaft yang diposisikan untuk tumpang tindih satu sama lain dan membentuk campuran terus kolom tumpang tindih.


https://atmadilaga27.blogspot.com

Ketika desain kedalaman tersebut tercapai, augers ditarik dan proses pencampuran diulang dalam perjalanan ke permukaan. Waktu di belakang menjadi stabil memiliki kolom DSM berikut (properti / kekayaan):


(permeabilitas yang rendah, peningkatan kapasitas bantalan, atau kekuatan geser, tak bisa bergerak kontaminan bahwa ketika diperkuat, yang mampu menahan tanah diferensial dan hidrostatik loading).


METODE


Ascolumn Metode (metode pencampuran dalam)

https://atmadilaga27.blogspot.com

Ascolumn metode adalah untuk membangun tanah stabil kolom semen di dalam tanah dengan menggunakan semen bubur stabilizer in-situ dan pencampuran dan mengagitasi tanah dan stabilizer dengan menggunakan forward-reverse

agitator berputar, kemudian menarik. Solidifikasi di lapangan / stabilisasi tanah yang terkontaminasi dapat dicapai dengan menggunakan teknologi Cement Deep Soil Minxing (CDSM) dimana bahan pencampur yang digunakan adalah semen. Pada tanah yang dalam pencampuran, augers yang kuat kuat digunakan untuk mencampur bubur aditif possolanic ke tanah, sehingga menstabilkan tanah tersebut untuk tujuan konstruksi.


Pola Perlakuan Dasar DSM



Deep Soil Mixing (DSM) konvensional

https://atmadilaga27.blogspot.com


Deep Soil Mixing adalah teknologi perbaikan tanah yang digunakan untuk memperbaiki tanah dengan tujuan untuk meningkatkan kekuatan dan mengurangi kompresibilitas. Proses ini melibatkan pencampuran nat atau pengikat dengan tanah untuk menghasilkan sementasi tanah atau perbaikan tanah. Metode basah adalah metode dimana pengikat yang dimasukkan dalam bentuk basah, yang bertentangan dengan metode kering di mana bahan pengikat dimasukkan dengan udara. Dalam pencampuran basah, pengikat yang paling umum digunakan adalah semen.


Aplikasi Pencampuran Tanah

https://atmadilaga27.blogspot.com

DSM adalah pengobatan tanah dimana tanah dicampur dengan bahan reagen semen dan / atau lainnya untuk mengobati tanah untuk meningkatkan kekuatan dan mengurangi kompresibilitas. Kolom DSM biasanya dipasang di tanah lunak di mana penurunan harus dikurangi dan stabilitas meningkat. Aplikasi DSM juga telah digunakan untuk memperbaiki tanah yang terkontaminasi, sedimen, dan lumpur di proyek remediasi. Tanah pencampur telah digunakan untuk mengobati tanah, sedimen, dan lumpur. Teknologi ini terbukti efektif untuk pemulihan tanah yang mengandung baik organik dan anorganik. Pemilihan teknik yang tepat tergantung pada beberapa faktor, termasuk jenis kendala geoteknik, karakteristik tanah, dan hasil akhir yang diinginkan. Sementara yang paling umum digunakan dalam tanah kohesif, mereka juga memiliki aplikasi pada media pasir padat - longgar dimana biaya sementasi rendah yang mereka berikan dapat menghindari liquifafaksi pada tanah (tanah loose). Skala penuh S / S dan proyek DSM telah memperlakukan konstituen anorganik termasuk timbal, arsen kadmium, dan kromium dan konstituen organik, termasuk ter batubara, limbah kilang, kreosot, lainnya polisiklik hidrokarbon aromatik dan polychlorinated biphenyls (PCB).


TAHAP-TAHAP PENGEBORAN


Pengeboran persiapan :


berfungsi untuk memecah tanah , terutama jika digunakan bubur pelumas, mengurangi gesekan sehingga pengeboran akhir mungkin menjadi lebih cepat.


pengeboran Final
dibagi menjadi ke bawah dan ke atas fase. Entah pengerasan atau non-pengerasan bubur dapat diperkenalkan dan konsolidasi dengan tanah selama fase ke bawah, tetapi hanya pengerasan bubur biasanya digunakan pada akhir fase ke atas pengeboran. Teknik ini menghasilkan lebih cepat dan lebih homogen campuran bubur dan tanah dan memungkinkan lubang bor lebih dalam.


Deep Soil Mixing meliputi:

  • Konstruksi dinding cut-off untuk mengontrol air tanah dan kontaminan,
  • Meningkatkan daya dukung subgrade untuk struktur,
  • Enkapsulasi (kapsulasi) polutan / kontaminan kimia sebagai perbaikan.
  • Mengontrol permukaan tanah lunak, di dasar penggalian,
  • Support Excavasi pemasangan dinding penahan sementara atau permanen,
  • beban merata dan beban terpusat struktural,
  • Seismik yang disebabkan penurunan / penyebaran lateral partikel tanah dan mitigasi terhadap potensi liquifaksi tanah

Likuifaksi sering terjadi pada tanah berpasir lepas dan jenuh air bila terjadi gempa bumi. Akibat kehilangan kuat geser akibat gempa dapat menyebabkan terjadinya tanah longsor, kehilangan kuat dukung pada fondasi, dan penurunan fondasi yang berlebihan. Sebagai kelanjutannya akan terjadi kerusakan pada struktur bangunan diatasnya. Gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 telah menyebabkan kerusakan infrastruktur dan kerugian baik materi maupun jiwa manusia. Berdasarkan kajian awal (reconnaissance) kelompok geoteknik Taiwan Tech diketahui bahwa lebih dari 27 lokasi telah terjadi peristiwa sand-boiling selama gempa tersebut (Lee, Hwang dan Muntohar, 2006). Sand-boiling merupakan indikasi terjadinya peristiwa likuifaksi (liqeufaction) akibat gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut. Salah satu lokasi terjadinya sand-boiling ini adalah di Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang diikuti dengan retaknya permukaan tanah.


BAHAN


Bentonite

Bentonite terbentuk dari abu vulkanik, Unsur (Na,Ca)0.33(Al,Mg)2Si4O10(OH)2·(H2O). Sifat materialnya tidak menyerap air. Banyak digunakan sebagai bahan kosmetik, keramik, semen, adhesives, cat dan lain sebagainya. Selain di Indonesia banyak terdapat di Amerika Utara, Australia, Afrika dan banyak negara lainya.


Aditif

keuntungan
  • Metode yang efektif untuk Kontrol terhadap settlement tanah, mitigasi liquifaksi tanah, dan remediasi tanah yang terkontaminasi.
  • Mengurangi getaran - getaran, Metode ini menginduksi getaran yang sangat rendah sehingga mengurangi potensi dampak terhadap sarana di dekatnya.
  • Mengurangi masalah pembuangan ke luar lokasi.
  • Hemat Waktu - proses cepat, dan kekuatan dicapai dalam kondisi tanah yang sulit. Kemampuan untuk membangun kolom tanah berdiameter besar, di lingkungan yang lebih bersih.

Batasan-batasan DSM


Faktor-faktor yang dapat membatasi penerapan dan efektivitas di lapangan mencakup:
  • Kedalaman kontaminan dapat membatasi beberapa jenis proses aplikasi.
  • Penggunaan lokasi pada masa mendatang, bahan mempengaruhi kemampuan untuk mempertahankan imobilisasi kontaminan.
  • Beberapa proses menghasilkan peningkatan signifikan dalam volume (sampai dua kali lipat volume asli).
  • Limbah tertentu sesuai dengan variasi dari proses ini. Studi Treatability umumnya dibutuhkan.
  • pengiriman Reagen dan efektifitas pencampur lebih sulit daripada untuk aplikasi di luar lokasi.
  • Seperti semua dalam perawatan lokasi, konfirmasi pengambilan sampel dapat lebih sulit daripada untuk perawatan ex situ.
  • Bahan dipadatkan dapat menghalangi menggunakan lahan di masa mendatang.
  • Pengolahan kontaminasi bawah water table mungkin memerlukan dewatering.
Share:

14 August 2010

PERCEPATAN KONSOLIDASI

Percepatan konsolidasi merupakan suatu proses drainase baik secara vertikal (mono-directional) maupun horisontal yang memanfaatkan kolom-kolom drain agar air dalam pori-pori tanah lebih cepat terevakuasi dengan memanfaatkan aliran air tanah arah horisontal.

Arah Aliran Air Tanah


a. Tanpa drainase vertikal
https://atmadilaga27.blogspot.com b. Dengan drainase vertikal
https://atmadilaga27.blogspot.com
TIPE DRAIN
1. Drain Konvensional dari Bahan Granuler
– Tipe ini sudah lama digunakan dan bahan drai terdiri dari pasir atau kerikil.

– Diameter drain berkisar antara 18 s/d 45 cm.
– Kriteria bahan filter alami (Terzaghi, 1921)

  • 4d15 ≤ D15 ≤ 4d85 dengan cu = d60/d10 ≤ 2 (untuk jenis tanah uniform)
  • D15 ≥ 4d15 sifat hidrolis bahan mampu melewatkan air
  • D15 ≤ 4d85 sifat filter bahan mampu menahan butiran
2. Drain sintetis
– Magnan (1983) meyatakan bahwa drain sintetis dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori
  • Drain karton
  • Drain plastik
  • Drain dalam bentuk kantong-kantong pasir
  • Drain berbentuk tali dari bahan jute
POLA JARINGAN DRAIN
https://atmadilaga27.blogspot.comhttps://atmadilaga27.blogspot.com
Diameter Efektif Pangaruh suatu Drain Vertikal
• Diameter efektif pengaruh suatu drain vertikal yang berbentuk suatu kolom drain adalah merupakan diameter rerata dari prisma tanah yang dipengaruhi oleh satu drain.

• Tipe jaring segi empat : D = 1.13L
• Tipe jaring segi tiga : D = 1.05L


Diameter Ekivalen

• Dalam masalah drain bentuk pita, maka bentuk tampang drain adalah segi empat, sedangkan untuk analisis konsolidasi tanah akibat drainase vetikal digunakan koordinat siliner sehingga bentuk plat perlu diekivalenkan ke bentuk silinder agar dapat menggunakan teori konsolidasi radial. Magnan (1983) menyatakan bahwa :
– d : diemeter ekivalen (cm)
– B : lebar drain bentuk pita (cm)

– Tg : tebal drain bentuk pita (cm)

https://atmadilaga27.blogspot.comDrainase Vertikal
https://atmadilaga27.blogspot.com• Penyelesaian matematis persamaan Terzaghi dengan kondisi batas sebagai berikut :
– Drainase terjadi ke arah lapisan drainase di atas dan di bawah lapisan tanah kompresibel, bila z = 0 dan z = sH, u = 0.
– Kelebihan tegangan air pori awal
Δu = ui adalah sama dengan pertambahan tegangan tekan (σΔ), bila t = 0, u=ui= σΔ=σ2’ - σ1’

Panjang Aliran Drainase Vertikal
a. Kondisi 2 Lapisan Drainase

https://atmadilaga27.blogspot.com b. Kondisi 1 Lapisan Dranase
https://atmadilaga27.blogspot.com
• Casagrande (1938) dan Taylor (1948) memberikan pendekatan sebagai berikut :
– Untuk Uv <>- Untuk Uv > 60% dengan Tv = 1.781 – 0.933log(100-Uv%)
– Dimana Uv :

• Brinch Hansen menyederhanakan hubungan antara Uv dan Tv sebagai berikut :

Hubungan Derajat Konsolidasi (Uv) dan Time Factor (Tv) pada konsolidasi satu arah
https://atmadilaga27.blogspot.comKonsolidasi Radial dan Vertikal
• Barron (1947), menyatakan bahwa deformasi berbentuk uniform.
• Prisma tanah yang dipengaruhi oleh satu drain adalah suatu silinder porous
• Volume air yang di drainase
adalah volume air yang berada di dalam silinder.
https://atmadilaga27.blogspot.com
• Untuk masalah konsolidasi radial, tegangan total terjadi adalah konstan.
• Dalam kondisi tersebut maka didapat nilai F(n) sebagai berikut :

• Kemudian pemecahan konsolidasi radial dari Barron disederhanakan menjadi :

• Dalam masalah geoteknik, umumnya dinyatakan dalam :
___________

• Carillo (1942) dan Gambin (1985), memberikan teori yang menggabungkan ke dua pemecahan teori konsolidasi vertikal dan radial yang dinayatakan sebagai berikut :


• Pengaruh hambatan aliran dalam suatu drain, Hansbo (1983) memberikan koreksi terhadap konsolidasi arah radial. Hubungan antara Kapasitas Drainase dan Waktu Reel Konsolidasi


Hubungan antara Kapasitas Drainase dan Waktu Reel Konsolidasi
• Umumnya derajat konsolidasi tidak dicari sebesar 100%, tetapi ditentukan untuk waktu reel yang akan dicapai, bila derajat konsolidasi (Uv) berkisar antara 90%-95%.
• Oostveen (1986), kriteria drain sempurna ditentukan jika kapasitas drainase (qw) dari pada drain tersebut lebih dari 100-1000 kali nilai koefisien permeabilitas horisontal tanah (kh).
• Hubungan antara Uv dan Tv dapat digunakan tabel atau grafik dari Terzaghi atau menggunakan ekspresi Brinch dan Hansen.
Share:

OUR YOUTUBE CHANNEL

Join Our Fanpage

KUNJUNGI BLOG KAMI LAINNYA



Total Pageviews

Blogroll